Wacana dan Praksis Etika   Leave a comment

WACANA DAN PRAKSIS ETIKA

Referensi: Paradoks Etika Akuntan (Unti Ludigdo)

Pengantar

Etika sebagai pemikiran dan pertimbangan moral memberikan dasar bagi seseorang maupun sebuah komunitas dalam melakukan suatu tindakan. Seiring perkembangannya, pemikiran-pemikiran etika membentuk teori etika. Teori etika dapat disebut sebagai gambaran rasional mengenai hakekat dan dasar perbuatan dan keputusan yang benar serta prinsip-prinsip yang menentukan klaim bahwa perbuatan dan keputusan tersebut secara moral diperintahkan dan dilarang (Fakhry, 1996: xv).

Menyelami Keragaman Pemikiran tentang Etika

            Menurut suseno, keragaman pemikiran etika banyak dipengaruhi oleh bangsa Yunani. Adapun variasi dari pemikiran etika ini adalah sbb:

  • Murid-murid Pytagoras (570-496 SM): bahwa badan merupakan kubur jiwa, sehingga jika manusia menginginkan jiwanya bebas dari badan maka dia perlu menempuh jalan pembersihan (bertapa, bekerja secara rohani).
  • Democritus (460-371 SM): mengajarkan aturan kehidupan bahwa manusia hendaknya mengusahakan keadilan. Nilai tertinggi kehidupan adalah pencapaian pada apa yang enak (kerangka perkembangan hedonisme).
  • Kaum Sofis: baik dan buruk lebih merupakan masalah keputusan masing-masing atau kesepakatan bersama daripada suatu aturan abadi.
  • Socrates (469-399 SM): membuka dan memperlihatkan bahwa pengandaian kaum Sofis tidak dapat dipertahankan. Socrates membawa manusia pada paham etis dengan menghadapkannya pada implikasi anggapannya sendiri. Socrates yakin bahwa orang akan berbuat benar bila ia mengetahui apa yang baik baginya.
  • Plato (427-348 SM): memperlihatkan bahwa apa yang umumnya dianggap kebenaran masih jauh sekali dari realitas, yang bersifat rohani dan disebut idea, bersumber dari Yang Ilahi.
  • Aristoteles (384-322 SM): menurutnya, ajaran Plato adalah interpretasi salah terhadap kenyataan bahwa manusia dapat membentuk konsep-konsep universal tentang hal yang empiris yang mana untuk menjelaskan ini tidak perlu menerima alam idea yang abadi. Hidup yang baik bagi manusia adalah bila ia mencapai apa yang menjadi tujuannya.
  • Epikuros (314-270 SM): penganut kebebasan berkehandak. Dengan kebebasannya manusia menuju kebahagiaan yang menghasilkan nikmat, yakni nikmat bersifat rohani dan luhur daripada jasmani.
  • Kaum Stoa: etika sebagai seni hidup yang menunjukkan jalan ke kebahagiaan yang dicapai dengan keberhasilan hidup manusia, yakni dengan mempertahankan diri. Prinsip dasar etika bagi kaum ini adalah penyesuaian diri dengan hukum alam.
  • Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (1806-1873): mengembangkan etika teleologi. Mempunyai pandangan bahwa suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan tujuan atau akibat dilakukannya tindakan tersebut. Kemudian muncul varian darinya, yaitu egoisme (menilai baik buruk tindakan dari tujuan dan manfaat tindakan tersebut bagi pribadi-pribadi) dan utilitarianisme (baik buruk suatu tindakan berdasarkan tujuan dan akibat bagi kebanyakan orang).
  • Immanuel Kant (1724-1804): mngembangkan aliran deontologi, dimana penilaian baik buruk tindakan didasarkan pada penilaian apakah tindakan itu sendiri apakah baik atau buruk.
  • Augustinus (354-430 M): berbasis pada nilai agama Nasrani. Dalam etika terdapat dimensi kesadaran transendensi.
  • Thomas Aquinas (1225-1274): menurutnya, Tuhan adalah tujuan akhir manusia, karena Ia adalah nilai tertinggi dan universal, dan karenanya kebahagiaan manusia tercapai bila ia memandang Tuhan.

Praksis Peran Individu dan Organisasi dalam Mempromosikan Etika

            Faktor-faktor locus of control, gender dan pengalaman kerja mempunyai pengaruh pada keberterimaan perilaku etis dan tidak etis di tempat kerja (Reiss & Mitra). Terdapat juga konsepsual bahwa keberagamaan merupakan motivasi bertindak etis dan menemukan adanya perbedaan signifikan dalam pertimbangan etis di antara responden yang terkategori bermotif keberagamaan dan yang tidak (Clark & Dawson).

Pelaporan berbuat salah yang dilakukan oleh rekan secara tak langsung dipengaruhi oleh keberagamaan seseorang, dimana dalam hal ini keterpengaruhan terjadi melalui ideologi etis individu (Barnett dkk). Sedangkan Singhapakdhi & Vitell menyimpulkan pertimbangan etis marketer’s dapat secara parsial dijelaskan oleh nilai-nilai personal dan profesional individu bersangkutan.

Organisasi tempat bekerja sangat mempengaruhi etika individu. Maryani & Ludigdo menemukan bahwa aspek organisasional termasuk sebagai faktor penting yang mempengaruhi sikap dan perilaku akuntan.

Kode Etik: Mainstream Model Pengembangan Etika dalam Organisasi

            Kode etik adalah dokumen formal tertulis dan membedakan yang terdiri dari standar moral untuk membantu mengarahkan perilaku karyawan dan organisasi (Scwhartz, 2002). Fungsinya untuk mencapai standar etis yang tinggi dalam bisnis (kavali dkk, 2001). Standar moral universal menurut Scwhartz:

  • Trustworthiness
  • Respect
  • Responsibility
  • Fairness
  • Caring
  • Citizenship

Sedangkan menurut Adams dkk, alasan mengapa perusahaan membuat kode etik adalah:

  • Kode etik merupakan upaya untuk memperbaiki iklim organisasional sehingga individu berperilaku etis.
  • Kontrol etis diperlukan karena sistem legal dan pasar tidak cukup mampu mengarahkan perilaku organisasi untuk mempertimbangkan dampak moral dalam setiap keputusan bisnis.
  • Untuk menentukan status bisnis sebagai sebuah profesi, dimana kode etik menjadi penandanya.
  • Sebagai upaya menginstitusionalisasikan moral dan nilai-nilai pendiri perusahaan.
  • Kode etik merupakan pesan.

Comprehensiveness dalam Pengembangan Praktik Etika di Organisasi

            Menurut Lam & White, terdapat komponen-komponen untuk menuju suatu sistem organisasi. Faktor-faktor means, motivation, opportunity mendorong perilaku tidak etis dalam organisasi karena:

  1. Organisasi tidak memberikan means untuk mencegah perilaku tidak etis.
  2. Individu memiliki personal motivation personal motivation yang didapat dari perilaku tidak etis.
  3. Posisi kerja memberikan opportunity untuk mendorong praktik tidak etis.

Etika sebagai Basis Profesionalisme Akuntan

            Brooks memberi pedoman atas isi yang seharusnya terdapat dalam suatu kode etik akuntan, yaitu:

Spesifikasi alasan aturan-aturan umum yang berhubungan dengan:

  • Kompetensi teknis
  • Kehati-hatian
  • Obyektivitas
  • Integritas

Memberikan pedoman:

  • Untuk berperilaku memenuhi kepentingan berbagai kelompok dalam masyarakat.
  • Untuk memecahkan konflik antar berbagai pihak yang berkepentingan dan antara pihak yang berkepentingan dan akuntan.
  1. Memberi dukungan atau perlindungan bagi akuntan yang akan “melakukan sesuatu dengan benar”.
  2. Menspesifikasikan sanksi secara jelas sehingga konsekuensi dari kesalahan akan dipahami.

Di bagian pendahuluan kode etik harus disebutkan empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi akuntan dalam menjalani profesinya (IAI, 1998: 301):

  • Kredibilitas
  • Profesionalisme
  • Kualitas jasa
  • Kepercayaan

Sedangkan pada Prinsip Etika Akuntan meliputi delapan butir pernyataan mengenai (IAI, 1998: 302-306):

  1. Tanggung jawab profesi
  2. Kepentingan publik
  3. Integritas
  4. Obyektivitas
  5. Kompetensi dan kehati-hatian profesional
  6. Kerahasiaan
  7. Perilaku profesional
  8. Standar teknis

 

 

 

 

Posted August 24, 2011 by liswonderland in Etika Bisnis & Profesi, Kuliahku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: